Pada suatu hari empat orang putra dari keraton Sala, tiga orang putra dan satu orang putri, pergi meninggalkan keraton. Mereka ingin mencari sumber bau harum yang tercium sampai di kediaman mereka.
Keempat orang itu berjalan ke arah timur. Tanpa disadari, mereka sampai di
Pulau Bali. Ketika sampai di batas Pulau Bali sebelah timur, yaitu antara desa
Culik dan Tepi di perbatasan Karangasem dan Buleleng, bau harum itu tercium
semakin tajam. Apalagi setelah mereka tiba di daerah Batur.
Ketika tiba di kaki Gunung Batur sebelah selatan, putra terkecil, yaitu
seorang putri, ingin berdiam di tempat itu. Maksud putri bungsu disetujui
ketiga kakaknya. Maka, tinggallah putri bungsu di tempat itu. Kemudian ia
pindah ke lereng Gunung Batur sebelah timur, tempat pura Batur berdiri. Sebagai
seorang dewi, ia bergelar Ratu Ayu Mas Maketeg.
Setelah meninggalkan adiknya, ketiga putra keraton Sala melanjutkan
perjalanannya. Ketika sampai pada suatu dataran di sebelah barat daya Danau
Batur, mereka mendengar suara burung. Karena senangnya, putra termuda berteriak
kegirangan. Akan tetapi putra tertua tidak senang mendengar teriakan adiknya.
Ia menyuruh adiknya untuk tinggal saja di tempat itu, tetapi adiknya tidak mau.
Marahlah sang kakak. Ia lalu menendang adiknya hingga jatuh dalam posisi duduk
bersila, dan menjadi sebuah patung. Sampai sekarang di tempat yang namanya
Kedisan, masih ada sebuah patung dari batu dalam posisi duduk bersila.
Putra tertua dan putra kedua lalu melnjutkan perjalanan menyusuri tepi
Danau Batur sebelah timur. Ketika sampai disebuah dataran, mereka berjumpa
dengan dua orang wanita yang sedang mencari kutu. Putra kedua amat tertarik. Ia
lalu menyapa dua orang perempuan itu. Akan tetapi, putra tertua tidak senang
akan tindakan adiknya. Ia lalu menyuruh adiknya tinggal ditempat itu, tetapi
adik yang ini pun tidak mau. Marahlah putra tertua dan ditendangnya sang adik
hingga jatuh dalam posisi tertelungkup dan cepat-cepat ditinggalkan oleh
kakaknya. Selanjutnya sang adik menjadi kepala desa di tempat itu. Sekarang
tempat itu terkenal dengan nama Abang Dukuh.
Putra sulung yang tinggal seorang diri melanjutkan perjalanan ke arah utara
dengan menyusuri pinggir Danau Batur yang curam di sebelah timur. Tidak berapa
lama, ia sampai di suatu dataran. Di tempat itu ia bertemu dengan seorang
seorang dewi yang sangat cantik. Dewi itu sedang duduk sendirian di bawah pohon
Taru Menyan, yaitu pohon yang berbau harum. Pohon itulah sumber bau harum yang
dicari keempat putra keraton Sala itu.
Putra sulung tertarik kepada dewi yang cantik itu. Ia ingin memperistrinya.
Putra sulung lalu pergi menghadap kakak dewi itu untuk meminang adiknya.
Pinangan diterima, tetapi putra sulung harus mau menjadi pancer jagat atau
pemimpin daerah itu. Putra sulung menyanggupi persyaratan itu. Setelah menikh
dan menjadi dewa, putra sulung bergelar Ratu Sakti Pancering Jagat ( jaman
dahulu sebutan untuk penguasa suatu wilayah, baik Putra atau Putri disebut Ratu
). Sang dewi, istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar.
Di bawah pimpinan Ratu Sakti Pencering Jagat, daerah yang mereka diami
berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil. Ratu Sakti Pancering Jagat, lalu
menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Trunyan, yang berasal dari kata Taru dan
Menyan, yaitu pohon yang menyebarkan bau harum sampai ke Pulau Jawa.
Setelah menjadi raja, Ratu Sakti Pancering Jagat merasa was-was. Ia
khawatir, jangan-jangan ada orang yang akan menguasi kerajanannya karena
terpesona oleh bau harum pohon Menyan yang ada di derahnya. Beliau lalu
memerintahkan menghilangkan bau harum yang menusuk hidung itu. Caranya adalah
dengan meletakkan jenazah-jenazah orang Trunyan di bawah pohon Taru Menyan yang
banyak terdapat di sana supaya membusuk di alam terbuka.
Sejak itu Desa Trunyan tidak lagi berbau harum sekali. Jenazah-jenazah
penduduk, yang semula diharapkan akan membusuk di alam terbuka di daerah
pemakaman Sema Wayan itu ternyata tidak mengeluarkan bau busuk yang
tajam. Hal itu sungguh merupakan suatu keanehan dan keajaiban di daerah itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar