Powered By Blogger

Sabtu, 14 Januari 2012

barong dan rangda


Barong dan Rangda, identik dengan simbol kebaikan dan kebatilan.  Barong adalah perlambang suatu kekuatan baik dan positif serta Rangda adalah simbol kebatilan, negatif dan kejahatan. Dalam kehidupan orang Bali dikenal adanya Rwa Bhineda, dimana suatu keseimbangan diperoleh karena adanya dua unsur yang saling menyeimbangkan yaitu kekuatan positif dan negatif. Jika salah satu unsur itu tiada maka keseimbangan alam akan terganggu. Barong adalah karakter dalam mitologi bali. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banaspatirajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Tarian tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering diperlihatkan sebagai atraksi wisata.
Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.
Topeng Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Pertunjukan tari ini dengan atau tanpa lakon, selalu diawali dengan pertunjukan pembuka, yang diiringi dengan gamelan yang berbeda-beda seperti Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Bebarongan, dan Gamelan Batel. Jenis-jenis Barong yang hingga kini masih ada di Bali adalah sebagai berikut : Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Kedingkling, Barong Gagombarangan, Barong Gajah, Barong Macan, Barong Landung, Barong Lembu, Barong Kambing, Barong Sai.
Menurut etimologinya, kata Rangda yang kita kenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti janda (L. Mardiwarsito, 1986:463). Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu, Wesya, Ksatria dan Brahmana.
Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu. Kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda. Perkembangan selanjutnya istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang ‘aeng’ (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa).
Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak).
Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.
Ada juga cerita yang lain, namun itu hanyalah kreasi para seniman seperti: Lakin Kunti Srya, Nang Aprak, Celedu Nginyah, Men Muntregan, Balian Batur, Campur Taluh (Talo) dan Kaki Tua. Juga cerita-cerita mythologi dan sejarah seperti Kalikek, Jayapati dan Sudarsana.
Jenis-jenis Rangda
Mengidentifikasi jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu :
Bentuk Nyinga
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.
Bentuk Nyeleme
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.
Bentuk Raksasa Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.

 

 

 

 Kelak, orang akan mengenangnya jauh dari kebenaran. Kelak, namanya akan terdengar menggetarkan setiap kali disebutkan. …Rangda ing Jirah 

Jirah, nama itu mengingatkan dengan lakon pementasan Calon Arang. Kisah tentang Sang Rangda, janda kelahiran Jirah, tanah Kabikuan di wilayah Medang. yang berputri Ratna Manggali. Dalam sejarahnya dikenang berasosiasi negatif, penganut sakti ilmu hitam yang menyebar mala di Kerajaan Kadiri karena kesumatnya. Begitu pun dengan stigma Lenda, Lendi, Wek Sirsa, Jaran Guyang, Rarung, Gandi, Maheswadana murid utama Jirah yang memiliki pencapaian masing – masing. Hingga Bahula putra Baradah datang ingin memperistri Ratna Manggali sekaligus menghentikan tingkah jahat sang ibu, Rangda ing Jirah.
Dua pemuda yang hendak menyusup, dikisahkan dari dialog – dialog para makhluk malam penghuni Setra Gandamayu. Keributan yang diciptakan para penghuni tersebut menerakan bahwa siapakah duhai yang tengah berani melintas di Setra Gandamayu, kuburan yang dikeramatkan itu. Menuju Kabikuan Jirah adalah tujuan dua pemuda itu. Mereka datang atas perintah sang tuan dan sebilah keris di tangan. Peran Jirah tentu tak akan kandas oleh adegan percobaan pembunuhan itu.
Memasuki bab kedua mulailah diceritakan kisah utamanya; Kepulangan Airlangga ke tanah kelahiran ibunya – Gunapriyadharmapatni, di Kerajaan Medang tanah Jawa. Melewati Segara Rupek atau yang kini dikenal Selat Bali, saat usia 16 tahun. Memenuhi pinangan pamandanya Sri Dharmmawangsa Tguh, Raja Medang keturunan Wangsa Isana, untuk dinikahkan dengan putrinya sekaligus sepupu Airlangga.
Airlangga berhasil menduduki istana Medang. Seketika itu kota mulai dibersihkan. Melalui Narotama, sang pengawal yang setia dari tanah Bali, ia memerintahkan untuk mengirim surat kepada mereka yang masih setia pada Medang. Medang kini bernama Kediri, beribukota Daha. Surat itu dikirim lengkap dengan bubuhan stempel Garudamukha, lambang kerajaan Medang yang kemudian menjadi cikal Garuda Pancasila.
Rencana dipetakan. Airlangga mulai membangun Kediri. Dusun – dusun ia perhatikan. Inilah yang menjadi kekuatan dari novel ini, gagasan sederhanapun tampak cemerlang dan dijabarkan detil. Semisal, prajurit dibekali keterampilan memandai besi, sehingga ketika tidak dalam perang dan tugas jaga mereka tidak membuat huru – hara. Rakyat dibantu prajurit membangun jembatan, dam, diajarkan cara bertani, beternak.  
 Ingat – ingatlah akan sebuah prasasti yang menyebut Airlangga sebagai titisan Dewa Wisnu ?
Lalu seberapa penting peran Jirah di sini?
Tak ada kebengisan dan perangai buruk yang dipersonakan ke dalam sosok Jirah. Dari orang – orang yang berkelakar di pasar Daha, tak ada cacat yang diingat dari Kabikuan Jirah. Hanya murid– murid Kabikuan Jirah yang tak bisa dibedakan apakah lelaki ataukah perempuankah ia. Namun, setiap ibu menginginkan anak – anaknya untuk belajar di Kabikuan Jirah. Dari hasil bumi yang dibawa orang – orang Kabikuan Jirah, sungguh bukan kokok ayam dalam sangkar itulah yang nyaring.
Jirah, nama itu menggetarkan Airlangga. Sang Purohito istana Kadiri, Mpu Bharadah pun menerangkan: “Teguh dalam menjalankan ajaran Budha. Memilih setra sebagai rumahnya, tak takut meluaskan pengetahuan. Mendidik murid – muridnya dalam kedisiplinan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan, menguasai tantra dan yantra, juga tak terjangkaukan dalam pencapaian yoga”. Begitulah Jirah, sang kerabat dari semua silsilah penguasa, dari garis ibu.
Narotama sang penasihat Airlangga, ia yang bersetia dengan kerendahan hatinya diterima oleh Jirah. Celah itu memungkinkan peran Narotama sebagai penasihat untuk dituturkannya suatu riwayat. Kisah – kisah tentang Dewi Kalika dan Dewi Uma, hingga silsilah purba Wangsa Isana mengalir dari percakapan mereka. Wangsa Isana dulunya bermukin di tengah Pulau Jawa, hingga bencana Merapi memaksa mereka pindah ke wilayah timur. Negeri itu kemudian bernama Mataram. Nama – nama disebutkan; Makutawangsawardhana, Dharmmawangsa Tguh, Gunapriyadharmapatni, hingga pendiri Wangsa Isana: Mpu Sindok, Wura – Wuri, Sriwijaya, dsb. Tak pernah tenteram Mataram didera bencana sampai perang saudara.
Betulkah kekuasaan itu yang menggelapkan?
Airlangga adalah keturunan Wangsa Isana dari garis Ibu. Ibunya Gunapriyadharmapatni telah dipinang oleh Raja Bali Udayana. Dalam hukum waris Bali, si bungsulah yang harus mewarisi rumah. Sedangkan Airlangga adalah Si Sulung. Meskipun Medang atau Mataram telah binasa, dan ia telah mendirikan Kediri yang beribukota di Daha, tetap saja tata krama Wangsa Isana mematahkan kehendaknya sebagai Raja di Kediri.
Intrik klasik pun terjadi dalam hubungan kekerabatan istana dengan kekuasaan, dengan yang disebut sebagai hak. Ada masanya Kediri berjaya, para “pemberontak” telah ditaklukan.
Apakah kemenangan itu menerangkan segalanya, melibas musuh – musuh utama?
Di usianya yang ke 20 tahun, lalu Samarawijaya muncul. Lelaki yang dipapasi Mpu Bharadah dalam perjalanan menuju Kabikuan Jirah, yang harus diberi pemberkatan oleh Sung Purohito Istana, siapakah ia?
Ada masanya ketika terawang Ratna Manggali menjadi nyata: “…Orang – orang akan lupa tentang asal muasal ajaran kita. Mereka tidak lagi menyoal siapa para guru, siapa yang melakukan, masa depan adalah ingatan para leluhur, kalian ingat dari sekarang, sampaikan kepada anak – anak kalian nanti, bahwa kerajaan di bawah Airlangga akan dibagi dua, dan permintaan Airlangga ditolak oleh saudaranya di Bali untuk menobatkan keturunannya sebagai raja di sana…”

Kutipan Manis
Siwa – Budha, itu yang didapati. Meski saya bukan orang yang paham betul ajaran Budha, satu hal yang senantiasa menggetarkan hati dari cara bertutur seorang Cok Sawitri dalam novel – novelnya: ajaran kerendahan hati. Entah, itukah ajaran – ajaran Budha yang paling sederhana yang tengah diterangkannya. Selain kode – kode istilah: Patanjali. Om Nammo Budha Ya. Raja pandita. Pejalan Yoga. Tryaksara. Sanghyang Mantranaya. Samaya.
Meskipun berformat novel, berlebihan sepertinya, inilah sesungguhnya yang bisa ditiru dari “kitab” bergaya paling populis yang seharusnya menjadi referensi pelengkap para pembaca: cara penyampaian. Pelajaran etika, sejarah, bahasa yang dikemas dengan sangat ringan dan tidak menggurui.
Dalam setiap tingkah tokohnya ada tata krama yang diselipkan. Semisal, betapa tidak sopannya melihat perempuan berbenah, membenahi rambut di peraduan. Tata krama tanah kebikuan. Pemungutan pajak. Dsb. Tidak hanya sekedar menjadi tempelan, informasi itu diperkaya dengan penjelasan yang tidak menggantung. Sehingga kadang pertanyaan kenapa, bertemu jawaban dalam novel ini.
Bicara tepi, tampaknya tak ada konklusi yang tersurat di sini. Justru nama lain dimunculkan: Tantular dan Astapaka. Lalu teringatlah nama – nMengapa Barong Disebut Bethara?
QUESTION:
Simbul/ perwujudan dari dewa apakah barong dan rangda yang ada di Bali dan apakah ada dewa/ dewi yang rupanya seperti itu?
  1. Kenapa umat Hindu di Bali menyebut barong dan rangda itu Bhatara?
  2. Anak saya yang berumur 3 tahun saya ajak nonton pertunjukan barong dan rangda, ia bertanya: Pak, apakah itu hantu? Nah, tolong jelaskan dari mana sejarahnya sehingga di Bali banyak yang menyungsung barong dan rangda.
  3. Pantaskah kita sebut itu Tuhan?
ANSWER:
1. Barong adalah simbol daiwi sampad, dan rangda adalah simbol asuri sampad. Keduanya merupakan rwa-bhineda yang ada di jagat raya ini.
Umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi melalui barong dengan maksud agar selalu diberi kekuatan untuk mewujudkan dan memenangkan daiwi sampad, namun juga tidak lupa memohon agar terhindar dari bahaya-bahaya asuri sampad melalui rangda sebagai sarana pemujaan.
2. Barong dan rangda disebut sebagai ‘Bhatara’ karena arti bhatara adalah: ‘yang melindungi’
3. Barong dan rangda mulai dikenalkan di Bali sekitar abad ke-11, setelah kedatangan Mpu Kuturan. Sebagaimana diketahui kedatangan beliau ke Bali tidak membawa istrinya yang bergelar: Rangda Nata Ing Dirah (rangda = janda, nata = bertempat tinggal, ing = di, Dirah = nama tempat).
Istri beliau itu berbeda paham dengan Mpu Kuturan, di mana Rangda Nata Ing Dirah lebih cenderung ke sekte Bhairawa, sedangkan Mpu Kuturan ke sekte Siwa-Budha. Perbedaan paham/ aliran ini kemudian diwujudkan dalam barong dan rangda.
Pertempuran antara barong (daiwi sampad) dengan rangda (asuri sampad) tidak pernah berakhir dan tidak pernah ada yang kalah atau menang, karena keduanya adalah rwa-bhineda, dua tetapi satu, demikianlah hakekat kehidupan manusia di dunia.
4. Barong dan rangda tidak disebut Tuhan/ Sanghyang Widhi, tetapi sebagai Simbol/ Niyasa seperti yang diuraikan di atas.
ama: Sutasoma dan Budhakeling…
Leak adalah seorang manusia yang sedang mempraktekkan ilmu hitam dan memiliki perilaku kanibalisme. Dikatakan bahwa Leak terbang sekitar mencoba mencari seorang wanita hamil untuk menghisap darah bayi atau anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magis nya. Ada tiga Leak legendaris, dua perempuan dan satu laki-laki. Kebocoran dengan keterampilan sihir yang besar dapat berubah menjadi Rangda, ratu ilmu hitam. Leak dikatakan menghantui pemakaman, memakan mayat, memiliki kekuatan untuk mengubah diri menjadi binatang, bahkan dia berbentuk monyet dengan emas atau gigi tikus besar, sebuah bola dari api dan bahkan raksasa gundul. Dikatakan bahwa dia memiliki lidah yang sangat panjang dan taring besar.

Di siang hari ia muncul sebagai seorang manusia biasa, tapi pada malam hari kepalanya dan isi perut membebaskan diri dari tubuh mereka dan terbang di sekitar. Musuh yang kuat nya adalah Barong, karakter dalam mitologi Bali. Dia adalah raja dari roh-roh, pemimpin tuan rumah yang baik. Barong dan Rangda ada di urutan alam kosmos dan mewakili Baik dan Jahat. Baik Barong dan Rangda yang disemen dalam legenda Bali.
Spoiler:


Legenda Leak di Bali mengacu pada sebuah drama mengerikan terinspirasi hitam sihir dengan tokoh kunci dari Calon Arang. Cerita ditulis dalam naskah menggambarkan bahwa selama pemerintahan Erlangga pada abad 11 ada janda yang disebut Calon Arang di desa Girah memiliki seorang putri cantik. Nama Putrinya adalah Ratna Manggali, yang telah mencapai perzinahan, tapi tidak ada satu di antara pemuda dari desa itu dan sekitarnya memiliki keberanian untuk pendekatan perawan. Hal ini karena ibunya diketahui memiliki pengetahuan ilmu hitam, dan dipraktekkan itu jahat, dan dengan sikap buruk itu menyebabkan banyak orang mati bahkan kebencian meningkat antara orang-orang, namun ini digunakan sebagai godaan untuk kebutuhan haus sihirnya hitam.
Spoiler:


Reputasi buruk nya akhirnya mencapai istana, dan beberapa prajurit mengambil inisiatif dan meminta izin kepada raja untuk menghukum janda. Para prajurit menuju ke desa Girah dan menemukan tidur nya. Satu solder menyeretnya oleh rambut, tapi sayangnya dia bangun dan sekali dia kaget dia melotot dengan 2 matanya liar memancar shooting api dan dibakar tentara, yang lain mengambil beberapa langkah dari lari tapi sekali lagi mata blitz nya kebakaran membakar mereka kecuali satu solder selamat dari bulu sihir hitam jahat. Tentara ini kemudian melaporkan pengalaman mengerikan kepada raja, dan membuat raja benar-benar kesal dan kehabisan alasan untuk mengatasi masalah tersebut. Calon Arang tahu bahwa istana yang terlibat dalam tindakan skandal percobaan pembunuhan, dan ia menjadi marah tak terkendali dan menyebar kekuatan gaib jahat itu menyebabkan epidemi besar.
Quote:
Originally Posted by balihotels
Dalam mitologi Bali, Leak adalah penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Leak hanya bisa dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor harimau, kera, babi atau menjadi seperti Rangda. Bila perlu ia juga dapat mengambil organ dari orang hidup.
[sunting] Kepercayaan

Diceritakan juga bahwa Leak dapat berupa kepala manusia dengan organ-organ yang masih menggantung di kepala tersebut. Leak dikatakan dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah bayi yang masih di kandungan. Ada tiga leak yang terkenal. Dua di antaranya perempuan dan satu laki-laki.

Menurut kepercayaan orang Bali, Leak adalah manusia biasa yang mempraktekkan sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup. Dikatakan juga bahwa Leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api, sedangkan bentuk Leyak yang sesungguhnya memiliki lidah yang panjang dan gigi yang tajam. Beberapa orang mengatakan bahwa sihir Leak hanya berfungsi di pulau Bali, sehingga Leak hanya ditemukan di Bali.

Apabila seseorang menusuk leher Leak dari bawah ke arah kepala pada saat kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka Leak tidak dapat bersatu kembali dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu, maka Leak akan mati.

Topeng leak dengan gigi yang tajam dan lidah yang panjang juga kadang-kadang digunakan sebagai hiasan rumah.

Quote:
Originally Posted by komunikan
Indonesia tak hanya kental dengan budayanya saja, namun juga dengan hal-hal yang berbau mistis. Justru kemistisan sebuah daerah biasanya terkait erat dengan budaya serta adat istiadat daerah tersebut. Leak adalah legenda hantu yang sangat populer dari pulau Bali. Legenda Leak di Bali ini sendiri mengacu pada sebuah drama yang terinspirasi ilmu hitam sihir.

Konon menurut kisahnya leak adalah seorang manusia yang sedang mempraktekkan ilmu hitam dan memiliki perilaku kanibalisme. Dikatakan bahwa Leak terbang sekitar mencoba mencari seorang wanita hamil untuk menghisap darah bayi atau anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magisnya. Ada tiga Leak legendaris, dua perempuan dan satu laki-laki.. Leak dikatakan menghantui pemakaman, memakan mayat, memiliki kekuatan untuk mengubah diri menjadi binatang, bahkan dia berbentuk monyet dengan emas atau gigi tikus besar, sebuah bola dari api dan bahkan raksasa gundul. Dikatakan bahwa dia memiliki lidah yang sangat panjang dan taring besar.

Yang satu ini walaupun diketahui oleh semua penduduk Indonesia, merupakan memedi khas yang berasal dan mungkin hanya ada di Bali. Penyihir jahat (Le berarti penyihir dan Ak artinya jahat) ini biasanya berkeliaran malam hari di kuburan untuk mencari organ tubuh manusia (baik yang hidup atau mati) untuk dijadikan ramuan yang bisa mengubahnya menjadi siluman harimau, kera, babi, bola api atau bahkan berwujud sebagai Rangda (Ratu Leak yang memimpin pasukan penyihir dan sering menculik dan memakan anak kecil).

Leak konon hanya bisa dilihat di malam hari oleh dukun pemburu Leak, karena siangnya ia berwujud manusia biasa. Bentuk aslinya adalah makhluk dengan lidah yang sangat panjang dan gigi yang tajam, ada juga kepercayaan yang menampilkan bentuk Leak sebagai kepala manusia yang terbang dengan organ-organ tubuh menggantung tanpa badan di bawahnya (mirip seperti legenda Kuyang di Kalimantan dengan bentuk kepala terbang tanpa badan yang juga menyamar sebagai manusia yang selalu mengenakan jubah di siang hari). Mangsa utama Leak selain anak kecil adalah wanita-wanita hamil yang akan ia hisap darah bayi yang ia kandung untuk bertahan hidup. Karena sihirnya hanya berfungsi di Bali, Leak hanya bisa ditemukan di pulau ini.


Konon untuk bisa mengalahkan Leak, sang pemburu harus menusuk kepala Leak dari bawah ke atas saat kepala Leak itu terbang meninggalkan tubuhnya agar tubuh dan kepala Leak tidak bisa bersatu kembali. Jika tubuh dan kepalanya dipisah, lama-kelamaan Leak akan mati (Proses pengusiran memedi ini sedikit lebih sulit dari Kuyang yang cukup digebuk menggunakan sapu ijuk, panci atau wajan).

Serem juga ya baca kisahnya tetapi sekali lagi memang ada keterkaitan erat antara legenda mistis dengan budaya dan adat istiadat setempat. Justru legenda ini juga memperkaya khasanah budaya Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar