Powered By Blogger

Sabtu, 14 Januari 2012

barong dan rangda


Barong dan Rangda, identik dengan simbol kebaikan dan kebatilan.  Barong adalah perlambang suatu kekuatan baik dan positif serta Rangda adalah simbol kebatilan, negatif dan kejahatan. Dalam kehidupan orang Bali dikenal adanya Rwa Bhineda, dimana suatu keseimbangan diperoleh karena adanya dua unsur yang saling menyeimbangkan yaitu kekuatan positif dan negatif. Jika salah satu unsur itu tiada maka keseimbangan alam akan terganggu. Barong adalah karakter dalam mitologi bali. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banaspatirajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Tarian tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering diperlihatkan sebagai atraksi wisata.
Barong singa adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.
Topeng Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Pertunjukan tari ini dengan atau tanpa lakon, selalu diawali dengan pertunjukan pembuka, yang diiringi dengan gamelan yang berbeda-beda seperti Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Bebarongan, dan Gamelan Batel. Jenis-jenis Barong yang hingga kini masih ada di Bali adalah sebagai berikut : Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Kedingkling, Barong Gagombarangan, Barong Gajah, Barong Macan, Barong Landung, Barong Lembu, Barong Kambing, Barong Sai.
Menurut etimologinya, kata Rangda yang kita kenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata Randa yang berarti janda (L. Mardiwarsito, 1986:463). Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu, Wesya, Ksatria dan Brahmana.
Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu. Kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah Rangda. Perkembangan selanjutnya istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud Rangda yang ‘aeng’ (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang mempunyai ilmu kiri (pengiwa).
Hal ini terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh nerangjana (ngeleak).
Sesungguhnya pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.
Ada juga cerita yang lain, namun itu hanyalah kreasi para seniman seperti: Lakin Kunti Srya, Nang Aprak, Celedu Nginyah, Men Muntregan, Balian Batur, Campur Taluh (Talo) dan Kaki Tua. Juga cerita-cerita mythologi dan sejarah seperti Kalikek, Jayapati dan Sudarsana.
Jenis-jenis Rangda
Mengidentifikasi jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk namun itu adalah antek-antek dari Si Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan. Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai), yaitu :
Bentuk Nyinga
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.
Bentuk Nyeleme
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.
Bentuk Raksasa Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.

 

 

 

 Kelak, orang akan mengenangnya jauh dari kebenaran. Kelak, namanya akan terdengar menggetarkan setiap kali disebutkan. …Rangda ing Jirah 

Jirah, nama itu mengingatkan dengan lakon pementasan Calon Arang. Kisah tentang Sang Rangda, janda kelahiran Jirah, tanah Kabikuan di wilayah Medang. yang berputri Ratna Manggali. Dalam sejarahnya dikenang berasosiasi negatif, penganut sakti ilmu hitam yang menyebar mala di Kerajaan Kadiri karena kesumatnya. Begitu pun dengan stigma Lenda, Lendi, Wek Sirsa, Jaran Guyang, Rarung, Gandi, Maheswadana murid utama Jirah yang memiliki pencapaian masing – masing. Hingga Bahula putra Baradah datang ingin memperistri Ratna Manggali sekaligus menghentikan tingkah jahat sang ibu, Rangda ing Jirah.
Dua pemuda yang hendak menyusup, dikisahkan dari dialog – dialog para makhluk malam penghuni Setra Gandamayu. Keributan yang diciptakan para penghuni tersebut menerakan bahwa siapakah duhai yang tengah berani melintas di Setra Gandamayu, kuburan yang dikeramatkan itu. Menuju Kabikuan Jirah adalah tujuan dua pemuda itu. Mereka datang atas perintah sang tuan dan sebilah keris di tangan. Peran Jirah tentu tak akan kandas oleh adegan percobaan pembunuhan itu.
Memasuki bab kedua mulailah diceritakan kisah utamanya; Kepulangan Airlangga ke tanah kelahiran ibunya – Gunapriyadharmapatni, di Kerajaan Medang tanah Jawa. Melewati Segara Rupek atau yang kini dikenal Selat Bali, saat usia 16 tahun. Memenuhi pinangan pamandanya Sri Dharmmawangsa Tguh, Raja Medang keturunan Wangsa Isana, untuk dinikahkan dengan putrinya sekaligus sepupu Airlangga.
Airlangga berhasil menduduki istana Medang. Seketika itu kota mulai dibersihkan. Melalui Narotama, sang pengawal yang setia dari tanah Bali, ia memerintahkan untuk mengirim surat kepada mereka yang masih setia pada Medang. Medang kini bernama Kediri, beribukota Daha. Surat itu dikirim lengkap dengan bubuhan stempel Garudamukha, lambang kerajaan Medang yang kemudian menjadi cikal Garuda Pancasila.
Rencana dipetakan. Airlangga mulai membangun Kediri. Dusun – dusun ia perhatikan. Inilah yang menjadi kekuatan dari novel ini, gagasan sederhanapun tampak cemerlang dan dijabarkan detil. Semisal, prajurit dibekali keterampilan memandai besi, sehingga ketika tidak dalam perang dan tugas jaga mereka tidak membuat huru – hara. Rakyat dibantu prajurit membangun jembatan, dam, diajarkan cara bertani, beternak.  
 Ingat – ingatlah akan sebuah prasasti yang menyebut Airlangga sebagai titisan Dewa Wisnu ?
Lalu seberapa penting peran Jirah di sini?
Tak ada kebengisan dan perangai buruk yang dipersonakan ke dalam sosok Jirah. Dari orang – orang yang berkelakar di pasar Daha, tak ada cacat yang diingat dari Kabikuan Jirah. Hanya murid– murid Kabikuan Jirah yang tak bisa dibedakan apakah lelaki ataukah perempuankah ia. Namun, setiap ibu menginginkan anak – anaknya untuk belajar di Kabikuan Jirah. Dari hasil bumi yang dibawa orang – orang Kabikuan Jirah, sungguh bukan kokok ayam dalam sangkar itulah yang nyaring.
Jirah, nama itu menggetarkan Airlangga. Sang Purohito istana Kadiri, Mpu Bharadah pun menerangkan: “Teguh dalam menjalankan ajaran Budha. Memilih setra sebagai rumahnya, tak takut meluaskan pengetahuan. Mendidik murid – muridnya dalam kedisiplinan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan, menguasai tantra dan yantra, juga tak terjangkaukan dalam pencapaian yoga”. Begitulah Jirah, sang kerabat dari semua silsilah penguasa, dari garis ibu.
Narotama sang penasihat Airlangga, ia yang bersetia dengan kerendahan hatinya diterima oleh Jirah. Celah itu memungkinkan peran Narotama sebagai penasihat untuk dituturkannya suatu riwayat. Kisah – kisah tentang Dewi Kalika dan Dewi Uma, hingga silsilah purba Wangsa Isana mengalir dari percakapan mereka. Wangsa Isana dulunya bermukin di tengah Pulau Jawa, hingga bencana Merapi memaksa mereka pindah ke wilayah timur. Negeri itu kemudian bernama Mataram. Nama – nama disebutkan; Makutawangsawardhana, Dharmmawangsa Tguh, Gunapriyadharmapatni, hingga pendiri Wangsa Isana: Mpu Sindok, Wura – Wuri, Sriwijaya, dsb. Tak pernah tenteram Mataram didera bencana sampai perang saudara.
Betulkah kekuasaan itu yang menggelapkan?
Airlangga adalah keturunan Wangsa Isana dari garis Ibu. Ibunya Gunapriyadharmapatni telah dipinang oleh Raja Bali Udayana. Dalam hukum waris Bali, si bungsulah yang harus mewarisi rumah. Sedangkan Airlangga adalah Si Sulung. Meskipun Medang atau Mataram telah binasa, dan ia telah mendirikan Kediri yang beribukota di Daha, tetap saja tata krama Wangsa Isana mematahkan kehendaknya sebagai Raja di Kediri.
Intrik klasik pun terjadi dalam hubungan kekerabatan istana dengan kekuasaan, dengan yang disebut sebagai hak. Ada masanya Kediri berjaya, para “pemberontak” telah ditaklukan.
Apakah kemenangan itu menerangkan segalanya, melibas musuh – musuh utama?
Di usianya yang ke 20 tahun, lalu Samarawijaya muncul. Lelaki yang dipapasi Mpu Bharadah dalam perjalanan menuju Kabikuan Jirah, yang harus diberi pemberkatan oleh Sung Purohito Istana, siapakah ia?
Ada masanya ketika terawang Ratna Manggali menjadi nyata: “…Orang – orang akan lupa tentang asal muasal ajaran kita. Mereka tidak lagi menyoal siapa para guru, siapa yang melakukan, masa depan adalah ingatan para leluhur, kalian ingat dari sekarang, sampaikan kepada anak – anak kalian nanti, bahwa kerajaan di bawah Airlangga akan dibagi dua, dan permintaan Airlangga ditolak oleh saudaranya di Bali untuk menobatkan keturunannya sebagai raja di sana…”

Kutipan Manis
Siwa – Budha, itu yang didapati. Meski saya bukan orang yang paham betul ajaran Budha, satu hal yang senantiasa menggetarkan hati dari cara bertutur seorang Cok Sawitri dalam novel – novelnya: ajaran kerendahan hati. Entah, itukah ajaran – ajaran Budha yang paling sederhana yang tengah diterangkannya. Selain kode – kode istilah: Patanjali. Om Nammo Budha Ya. Raja pandita. Pejalan Yoga. Tryaksara. Sanghyang Mantranaya. Samaya.
Meskipun berformat novel, berlebihan sepertinya, inilah sesungguhnya yang bisa ditiru dari “kitab” bergaya paling populis yang seharusnya menjadi referensi pelengkap para pembaca: cara penyampaian. Pelajaran etika, sejarah, bahasa yang dikemas dengan sangat ringan dan tidak menggurui.
Dalam setiap tingkah tokohnya ada tata krama yang diselipkan. Semisal, betapa tidak sopannya melihat perempuan berbenah, membenahi rambut di peraduan. Tata krama tanah kebikuan. Pemungutan pajak. Dsb. Tidak hanya sekedar menjadi tempelan, informasi itu diperkaya dengan penjelasan yang tidak menggantung. Sehingga kadang pertanyaan kenapa, bertemu jawaban dalam novel ini.
Bicara tepi, tampaknya tak ada konklusi yang tersurat di sini. Justru nama lain dimunculkan: Tantular dan Astapaka. Lalu teringatlah nama – nMengapa Barong Disebut Bethara?
QUESTION:
Simbul/ perwujudan dari dewa apakah barong dan rangda yang ada di Bali dan apakah ada dewa/ dewi yang rupanya seperti itu?
  1. Kenapa umat Hindu di Bali menyebut barong dan rangda itu Bhatara?
  2. Anak saya yang berumur 3 tahun saya ajak nonton pertunjukan barong dan rangda, ia bertanya: Pak, apakah itu hantu? Nah, tolong jelaskan dari mana sejarahnya sehingga di Bali banyak yang menyungsung barong dan rangda.
  3. Pantaskah kita sebut itu Tuhan?
ANSWER:
1. Barong adalah simbol daiwi sampad, dan rangda adalah simbol asuri sampad. Keduanya merupakan rwa-bhineda yang ada di jagat raya ini.
Umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi melalui barong dengan maksud agar selalu diberi kekuatan untuk mewujudkan dan memenangkan daiwi sampad, namun juga tidak lupa memohon agar terhindar dari bahaya-bahaya asuri sampad melalui rangda sebagai sarana pemujaan.
2. Barong dan rangda disebut sebagai ‘Bhatara’ karena arti bhatara adalah: ‘yang melindungi’
3. Barong dan rangda mulai dikenalkan di Bali sekitar abad ke-11, setelah kedatangan Mpu Kuturan. Sebagaimana diketahui kedatangan beliau ke Bali tidak membawa istrinya yang bergelar: Rangda Nata Ing Dirah (rangda = janda, nata = bertempat tinggal, ing = di, Dirah = nama tempat).
Istri beliau itu berbeda paham dengan Mpu Kuturan, di mana Rangda Nata Ing Dirah lebih cenderung ke sekte Bhairawa, sedangkan Mpu Kuturan ke sekte Siwa-Budha. Perbedaan paham/ aliran ini kemudian diwujudkan dalam barong dan rangda.
Pertempuran antara barong (daiwi sampad) dengan rangda (asuri sampad) tidak pernah berakhir dan tidak pernah ada yang kalah atau menang, karena keduanya adalah rwa-bhineda, dua tetapi satu, demikianlah hakekat kehidupan manusia di dunia.
4. Barong dan rangda tidak disebut Tuhan/ Sanghyang Widhi, tetapi sebagai Simbol/ Niyasa seperti yang diuraikan di atas.
ama: Sutasoma dan Budhakeling…
Leak adalah seorang manusia yang sedang mempraktekkan ilmu hitam dan memiliki perilaku kanibalisme. Dikatakan bahwa Leak terbang sekitar mencoba mencari seorang wanita hamil untuk menghisap darah bayi atau anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magis nya. Ada tiga Leak legendaris, dua perempuan dan satu laki-laki. Kebocoran dengan keterampilan sihir yang besar dapat berubah menjadi Rangda, ratu ilmu hitam. Leak dikatakan menghantui pemakaman, memakan mayat, memiliki kekuatan untuk mengubah diri menjadi binatang, bahkan dia berbentuk monyet dengan emas atau gigi tikus besar, sebuah bola dari api dan bahkan raksasa gundul. Dikatakan bahwa dia memiliki lidah yang sangat panjang dan taring besar.

Di siang hari ia muncul sebagai seorang manusia biasa, tapi pada malam hari kepalanya dan isi perut membebaskan diri dari tubuh mereka dan terbang di sekitar. Musuh yang kuat nya adalah Barong, karakter dalam mitologi Bali. Dia adalah raja dari roh-roh, pemimpin tuan rumah yang baik. Barong dan Rangda ada di urutan alam kosmos dan mewakili Baik dan Jahat. Baik Barong dan Rangda yang disemen dalam legenda Bali.
Spoiler:


Legenda Leak di Bali mengacu pada sebuah drama mengerikan terinspirasi hitam sihir dengan tokoh kunci dari Calon Arang. Cerita ditulis dalam naskah menggambarkan bahwa selama pemerintahan Erlangga pada abad 11 ada janda yang disebut Calon Arang di desa Girah memiliki seorang putri cantik. Nama Putrinya adalah Ratna Manggali, yang telah mencapai perzinahan, tapi tidak ada satu di antara pemuda dari desa itu dan sekitarnya memiliki keberanian untuk pendekatan perawan. Hal ini karena ibunya diketahui memiliki pengetahuan ilmu hitam, dan dipraktekkan itu jahat, dan dengan sikap buruk itu menyebabkan banyak orang mati bahkan kebencian meningkat antara orang-orang, namun ini digunakan sebagai godaan untuk kebutuhan haus sihirnya hitam.
Spoiler:


Reputasi buruk nya akhirnya mencapai istana, dan beberapa prajurit mengambil inisiatif dan meminta izin kepada raja untuk menghukum janda. Para prajurit menuju ke desa Girah dan menemukan tidur nya. Satu solder menyeretnya oleh rambut, tapi sayangnya dia bangun dan sekali dia kaget dia melotot dengan 2 matanya liar memancar shooting api dan dibakar tentara, yang lain mengambil beberapa langkah dari lari tapi sekali lagi mata blitz nya kebakaran membakar mereka kecuali satu solder selamat dari bulu sihir hitam jahat. Tentara ini kemudian melaporkan pengalaman mengerikan kepada raja, dan membuat raja benar-benar kesal dan kehabisan alasan untuk mengatasi masalah tersebut. Calon Arang tahu bahwa istana yang terlibat dalam tindakan skandal percobaan pembunuhan, dan ia menjadi marah tak terkendali dan menyebar kekuatan gaib jahat itu menyebabkan epidemi besar.
Quote:
Originally Posted by balihotels
Dalam mitologi Bali, Leak adalah penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Leak hanya bisa dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor harimau, kera, babi atau menjadi seperti Rangda. Bila perlu ia juga dapat mengambil organ dari orang hidup.
[sunting] Kepercayaan

Diceritakan juga bahwa Leak dapat berupa kepala manusia dengan organ-organ yang masih menggantung di kepala tersebut. Leak dikatakan dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah bayi yang masih di kandungan. Ada tiga leak yang terkenal. Dua di antaranya perempuan dan satu laki-laki.

Menurut kepercayaan orang Bali, Leak adalah manusia biasa yang mempraktekkan sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup. Dikatakan juga bahwa Leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api, sedangkan bentuk Leyak yang sesungguhnya memiliki lidah yang panjang dan gigi yang tajam. Beberapa orang mengatakan bahwa sihir Leak hanya berfungsi di pulau Bali, sehingga Leak hanya ditemukan di Bali.

Apabila seseorang menusuk leher Leak dari bawah ke arah kepala pada saat kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka Leak tidak dapat bersatu kembali dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu, maka Leak akan mati.

Topeng leak dengan gigi yang tajam dan lidah yang panjang juga kadang-kadang digunakan sebagai hiasan rumah.

Quote:
Originally Posted by komunikan
Indonesia tak hanya kental dengan budayanya saja, namun juga dengan hal-hal yang berbau mistis. Justru kemistisan sebuah daerah biasanya terkait erat dengan budaya serta adat istiadat daerah tersebut. Leak adalah legenda hantu yang sangat populer dari pulau Bali. Legenda Leak di Bali ini sendiri mengacu pada sebuah drama yang terinspirasi ilmu hitam sihir.

Konon menurut kisahnya leak adalah seorang manusia yang sedang mempraktekkan ilmu hitam dan memiliki perilaku kanibalisme. Dikatakan bahwa Leak terbang sekitar mencoba mencari seorang wanita hamil untuk menghisap darah bayi atau anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magisnya. Ada tiga Leak legendaris, dua perempuan dan satu laki-laki.. Leak dikatakan menghantui pemakaman, memakan mayat, memiliki kekuatan untuk mengubah diri menjadi binatang, bahkan dia berbentuk monyet dengan emas atau gigi tikus besar, sebuah bola dari api dan bahkan raksasa gundul. Dikatakan bahwa dia memiliki lidah yang sangat panjang dan taring besar.

Yang satu ini walaupun diketahui oleh semua penduduk Indonesia, merupakan memedi khas yang berasal dan mungkin hanya ada di Bali. Penyihir jahat (Le berarti penyihir dan Ak artinya jahat) ini biasanya berkeliaran malam hari di kuburan untuk mencari organ tubuh manusia (baik yang hidup atau mati) untuk dijadikan ramuan yang bisa mengubahnya menjadi siluman harimau, kera, babi, bola api atau bahkan berwujud sebagai Rangda (Ratu Leak yang memimpin pasukan penyihir dan sering menculik dan memakan anak kecil).

Leak konon hanya bisa dilihat di malam hari oleh dukun pemburu Leak, karena siangnya ia berwujud manusia biasa. Bentuk aslinya adalah makhluk dengan lidah yang sangat panjang dan gigi yang tajam, ada juga kepercayaan yang menampilkan bentuk Leak sebagai kepala manusia yang terbang dengan organ-organ tubuh menggantung tanpa badan di bawahnya (mirip seperti legenda Kuyang di Kalimantan dengan bentuk kepala terbang tanpa badan yang juga menyamar sebagai manusia yang selalu mengenakan jubah di siang hari). Mangsa utama Leak selain anak kecil adalah wanita-wanita hamil yang akan ia hisap darah bayi yang ia kandung untuk bertahan hidup. Karena sihirnya hanya berfungsi di Bali, Leak hanya bisa ditemukan di pulau ini.


Konon untuk bisa mengalahkan Leak, sang pemburu harus menusuk kepala Leak dari bawah ke atas saat kepala Leak itu terbang meninggalkan tubuhnya agar tubuh dan kepala Leak tidak bisa bersatu kembali. Jika tubuh dan kepalanya dipisah, lama-kelamaan Leak akan mati (Proses pengusiran memedi ini sedikit lebih sulit dari Kuyang yang cukup digebuk menggunakan sapu ijuk, panci atau wajan).

Serem juga ya baca kisahnya tetapi sekali lagi memang ada keterkaitan erat antara legenda mistis dengan budaya dan adat istiadat setempat. Justru legenda ini juga memperkaya khasanah budaya Indonesia

sejarah trunyan




Pada suatu hari empat orang putra dari keraton Sala, tiga orang putra dan satu orang putri, pergi meninggalkan keraton. Mereka ingin mencari sumber bau harum yang tercium sampai di kediaman mereka.
Keempat orang itu berjalan ke arah timur. Tanpa disadari, mereka sampai di Pulau Bali. Ketika sampai di batas Pulau Bali sebelah timur, yaitu antara desa Culik dan Tepi di perbatasan Karangasem dan Buleleng, bau harum itu tercium semakin tajam. Apalagi setelah mereka tiba di daerah Batur.

Ketika tiba di kaki Gunung Batur sebelah selatan, putra terkecil, yaitu seorang putri, ingin berdiam di tempat itu. Maksud putri bungsu disetujui ketiga kakaknya. Maka, tinggallah putri bungsu di tempat itu. Kemudian ia pindah ke lereng Gunung Batur sebelah timur, tempat pura Batur berdiri. Sebagai seorang dewi, ia bergelar Ratu Ayu Mas Maketeg.

Setelah meninggalkan adiknya, ketiga putra keraton Sala melanjutkan perjalanannya. Ketika sampai pada suatu dataran di sebelah barat daya Danau Batur, mereka mendengar suara burung. Karena senangnya, putra termuda berteriak kegirangan. Akan tetapi putra tertua tidak senang mendengar teriakan adiknya. Ia menyuruh adiknya untuk tinggal saja di tempat itu, tetapi adiknya tidak mau. Marahlah sang kakak. Ia lalu menendang adiknya hingga jatuh dalam posisi duduk bersila, dan menjadi sebuah patung. Sampai sekarang di tempat yang namanya Kedisan, masih ada sebuah patung dari batu dalam posisi duduk bersila.
Putra tertua dan putra kedua lalu melnjutkan perjalanan menyusuri tepi Danau Batur sebelah timur. Ketika sampai disebuah dataran, mereka berjumpa dengan dua orang wanita yang sedang mencari kutu. Putra kedua amat tertarik. Ia lalu menyapa dua orang perempuan itu. Akan tetapi, putra tertua tidak senang akan tindakan adiknya. Ia lalu menyuruh adiknya tinggal ditempat itu, tetapi adik yang ini pun tidak mau. Marahlah putra tertua dan ditendangnya sang adik hingga jatuh dalam posisi tertelungkup dan cepat-cepat ditinggalkan oleh kakaknya. Selanjutnya sang adik menjadi kepala desa di tempat itu. Sekarang tempat itu terkenal dengan nama Abang Dukuh.
Putra sulung yang tinggal seorang diri melanjutkan perjalanan ke arah utara dengan menyusuri pinggir Danau Batur yang curam di sebelah timur. Tidak berapa lama, ia sampai di suatu dataran. Di tempat itu ia bertemu dengan seorang seorang dewi yang sangat cantik. Dewi itu sedang duduk sendirian di bawah pohon Taru Menyan, yaitu pohon yang berbau harum. Pohon itulah sumber bau harum yang dicari keempat putra keraton Sala itu.

Putra sulung tertarik kepada dewi yang cantik itu. Ia ingin memperistrinya. Putra sulung lalu pergi menghadap kakak dewi itu untuk meminang adiknya. Pinangan diterima, tetapi putra sulung harus mau menjadi pancer jagat atau pemimpin daerah itu. Putra sulung menyanggupi persyaratan itu. Setelah menikh dan menjadi dewa, putra sulung bergelar Ratu Sakti Pancering Jagat ( jaman dahulu sebutan untuk penguasa suatu wilayah, baik Putra atau Putri disebut Ratu ). Sang dewi, istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar.
Di bawah pimpinan Ratu Sakti Pencering Jagat, daerah yang mereka diami berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil. Ratu Sakti Pancering Jagat, lalu menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Trunyan, yang berasal dari kata Taru dan Menyan, yaitu pohon yang menyebarkan bau harum sampai ke Pulau Jawa.

Setelah menjadi raja, Ratu Sakti Pancering Jagat merasa was-was. Ia khawatir, jangan-jangan ada orang yang akan menguasi kerajanannya karena terpesona oleh bau harum pohon Menyan yang ada di derahnya. Beliau lalu memerintahkan menghilangkan bau harum yang menusuk hidung itu. Caranya adalah dengan meletakkan jenazah-jenazah orang Trunyan di bawah pohon Taru Menyan yang banyak terdapat di sana supaya membusuk di alam terbuka.

Sejak itu Desa Trunyan tidak lagi berbau harum sekali. Jenazah-jenazah penduduk, yang semula diharapkan akan membusuk di alam terbuka di daerah pemakaman Sema Wayan itu ternyata tidak mengeluarkan bau busuk yang tajam. Hal itu sungguh merupakan suatu keanehan dan keajaiban di daerah itu.









MALANGNYA NEGARAKU INDONESIA

Sungguh sangat Menyakitkan hati bangsa indonesia atas ulah negeri tetangga yang telah banyak meng klaim budaya-budaya indonesia,mengapa negara tetangga tersebut begitu leluasa meng klaim budaya kita?apakah karena kita terlihat begitu lemah??mengutip perkataan bapak jero wacik selaku  yang mengatakan bahwa "Kita adalah negara kaya kebudayaan,sedangkan negara tetangga miskin kebudayaan,makanya dia berusaha untuk memiliki sebagian kebudayaan tersebut"..sepertinya kok tenang-tenang saja dan cenderung pasrah begitu saja budaya kita dicomot dan di injak2 oleh negara tetangga.sungguh sangat ironis sekali,padahal yang namanya budaya itu adalah smbol suatu negara,jikalau budaya kita sudah dipermainkan serta di klaim,itu sama saja menginjak2 harga diri bangsa indonesia... berikut budaya Indonesia yang telah di klaim oleh Malaysia ....
1.Batik


Klaim Malaysia atas batik sangat meresahkan perajin batik Indonesia. Bangsa ini harus segera menghapus bayang-bayang yang meresahkan itu agar perajin batik Indonesia di kemudian hari tidak perlu memberi royalti kepada negara lain. Perajin batik Pekalongan, Romi Oktabirawa, mengatakan hal itu dalam pembentukan Forum Masyarakat Batik Indonesia di Jakarta. Romi mengatakan, generasi batik masa lampau hanya melihat kompetisi antarperajin di dalam negeri. Kini, sudah saatnya perajin batik bersatu, menunjukkan eksistensi bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia. Untuk melestarikannya, Pemerintah Indonesia akan menominasikan batik Indonesia untuk dikukuhkan oleh Unesco sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage).

2.Tari Pendet
Geram dan marah muncul dari masyarakat Indonesia menyikapi klaim kebudayaan yang dilakukan Malaysia. Berbagai aset budaya nasional dalam rentang waktu yang tak begitu lama, diklaim negara tetangga. Pola pengklaimannya pun dilakukan melalui momentum formal kenegaraan. Seperti melalui media promosi ‘Visit Malaysia Year’ yang diselipkan kebudayaan nasional Indonesia.


3.Wayang Kulit


4.Angklung

5.Reog Ponorogo




6.Kuda Lumping


7.Lagu Rasa Sayange




8.Bunga Rafflesia Arnoldi


9.Keris





10.Rendang Padang



Kontroveri Tari Pendet yang menghebohkan itu mungkin telah selesai dengan permintaan maaf dari pihak discovery channel. meski begitu, Ternyata, selain Tari Pendet yang diklaim oleh malaysia, masih banyak kekayaan ataupun kebudayaan indonesia yang juga diklaim oleh pihak asing. termasuk tempe yang merupakan makanan wajib bagi sebagian besar penduduk jawa pun diklaim oleh asing!. inilah daftarnya

1. Batik dari Jawa diklaim oleh Adidas
2. Naskah Kuno dari Riau diklaim oleh Pemerintah Malaysia
3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat diklaim oleh Pemerintah Malaysia
4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan diklaim oleh Pemerintah Malaysia
5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara diklaim oleh Pemerintah Malaysia
6. Rendang dari Sumatera Barat diklaim oleh Oknum WN Malaysia
7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah diklaim oleh Oknum WN Belanda
8. Sambal Petai dari Riau oleh diklaim Oknum WN Belanda
9. Sambal Nanas dari Riau diklaim oleh Oknum WN Belanda
10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
29. Kain Ulos oleh Malaysia
30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia


Bangsa serumpun atau dikenal dengan Malaysia setidaknya mengklaim 21 artefak budaya Indonesia, dan yang terkini adalah tari Pendet dari Bali.

1. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
2. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
3. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
4. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
5. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
6. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
7. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
8. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
9. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
10. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
11. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
12. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
13. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
14. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
15. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
16. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
17. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
18. Kain Ulos oleh Malaysia
19. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
20. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
21. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia

Belum yang termasuk kekayaan alam seperti pulau kita, seperti kue aja main ambil ambil aja
ini negara bukan makanan bagi2 saja. dimana martabat kita pak.

Belum lagu lagu hasil karya musisi kita yang lagi ngetren lagu-lagunya.
Ibarat kita Bangun rumah cape2 orang lain yang tinggal didalam kita malah tinggal di luar.
Ibarat kita punya sepeda orang lain yang pakai dan sepeda di gunakan untuk berjualan untungnya gede lagi.

Sepertinya Malingsia tidak ada puas-puasnya meng klaim kesana kemari terhadap budaya indonesia,malah belakangan ini bahasa Indonesia akan di klaim juga sebagai milik malingsia dengan nama bahasa melayu...sungguh suatu tindakan yang sangat tidak beretika. sepuluh budaya yang di klaim tersebut diatas masih sebagian kecil dari yang sudah di klaim,masih banyak lagi budaya serta milik bangsa indonesia yang di klaim malingsia...misalnya pulau sipadan dan ligitan,tenun ikat sambas,pulau gosong di kal-bar,tari poco-poco,sebuah lagu dari sumatra barat,rapa'i dan serunai dari aceh,dan yang masih heboh klaim pulau ambalat,dan masih banyak lagi...masihkah kita berdiam diri sementara negara telah di obok-obok oleh malingsia??sungguh sangat ironis sekali apabila pemerintah hanya terdiam dan cuma geleng-geleng kepala tanpa mengambil tindakan...
Tolong pemerintah adakan gerakan bersama apa yang ada di Indonesia kita patenkan saja. setiap propensi mematenkan masing2 kekayaannya masak gak bisa.


Kalau perlu setiap desa harus mematenkan apa saja yang ada di daerahnya masing-masing.
Apa yang harus kita patenkan?
1. Kesenian
2. Adat istiadat
3. Makanan kas
4. Pakaian kas
5. Benda bersejarah
6. Hasil kreatifitas di bidang apa saja baik kreatifitas yang bersifat ekonomi,sosial,budaya dan pertahanan.

Jika semua kekayaan udah kita patenkan, kita patenkan lebih lanjut ditingkat internasional
.