Barong dan
Rangda, identik
dengan simbol kebaikan dan kebatilan. Barong adalah perlambang suatu
kekuatan baik dan positif serta Rangda adalah simbol kebatilan, negatif
dan kejahatan. Dalam kehidupan orang Bali dikenal adanya Rwa Bhineda, dimana
suatu keseimbangan diperoleh karena adanya dua unsur yang saling menyeimbangkan
yaitu kekuatan positif dan negatif. Jika salah satu unsur itu tiada maka
keseimbangan alam akan terganggu. Barong adalah karakter dalam mitologi
bali. Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan
musuh Rangda dalam mitologi Bali. Banaspatirajah adalah roh yang
mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai
roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan
sebagai seekor singa. Tarian tradisional di Bali yang menggambarkan pertempuran
antara Barong dan Rangda sangatlah terkenal dan sering diperlihatkan sebagai
atraksi wisata.
Barong singa
adalah salah satu dari lima bentuk Barong. Di pulau Bali setiap bagian pulau
Bali mempunyai roh pelindung untuk tanah dan hutannya masing-masing. Setiap
Barong dari yang mewakili daerah tertentu digambarkan sebagai hewan yang
berbeda. Ada babi hutan, harimau, ular atau naga, dan singa. Bentuk Barong
sebagai singa sangatlah populer dan berasal dari Gianyar. Di sini terletak
Ubud, yang merupakan tempat pariwisata yang terkenal. Dalam Calonarong atau
tari-tarian Bali, Barong menggunakan ilmu gaibnya untuk mengalahkan Rangda.
Topeng
Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan,
oleh sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh
masyarakat Hindu di Bali. Pertunjukan tari ini dengan atau tanpa lakon, selalu
diawali dengan pertunjukan pembuka, yang diiringi dengan gamelan yang
berbeda-beda seperti Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Bebarongan, dan Gamelan
Batel. Jenis-jenis Barong yang hingga kini masih ada di Bali adalah sebagai
berikut : Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong
Kedingkling, Barong Gagombarangan, Barong Gajah, Barong Macan, Barong Landung,
Barong Lembu, Barong Kambing, Barong Sai.
Menurut
etimologinya, kata Rangda yang kita kenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno
yaitu dari kata Randa yang berarti janda (L. Mardiwarsito, 1986:463). Rangda
adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu, Wesya, Ksatria dan
Brahmana.
Sedangkan
dari golongan Sudra disebut Balu. Kata Balu dalam bahasa Bali alusnya adalah
Rangda. Perkembangan selanjutnya istilah Rangda untuk janda semakin jarang kita
dengar, karena dikhawatirkan menimbulkan kesan tidak enak mengingat wujud
Rangda yang ‘aeng’ (seram) dan menakutkan serta identik dengan orang yang
mempunyai ilmu kiri (pengiwa).
Hal ini
terutama kita dapatkan dalam pertunjukan-pertunjukan cerita rakyat. Dengan kata
lain, ada kesan rasa takut, tersinggung dan malu bila dikatakan bisa neluh
nerangjana (ngeleak).
Sesungguhnya
pengertian di atas lebih banyak diilhami cerita-cerita rakyat yang di dalamnya
terdapat unsur Rangda. Cerita yang paling besar pengaruhnya adalah Calonarang.
Ada juga
cerita yang lain, namun itu hanyalah kreasi para seniman seperti: Lakin Kunti
Srya, Nang Aprak, Celedu Nginyah, Men Muntregan, Balian Batur, Campur Taluh
(Talo) dan Kaki Tua. Juga cerita-cerita mythologi dan sejarah seperti Kalikek,
Jayapati dan Sudarsana.
Jenis-jenis Rangda
Mengidentifikasi
jenis-jenis Rangda yang berkembang di Bali amat sulit. Hal ini mengingat wujud
Rangda pada umumnya adalah sama. Memang dalam cerita Calonarang ada wujud
Rangda yang lain seperti Rarung, Celuluk namun itu adalah antek-antek dari Si
Calonarang dan kedudukannya lebih banyak dalam cerita-cerita bukan disakralkan.
Untuk membedakan wujud Rangda adalah dengan melihat bentuk mukanya (prerai),
yaitu :
Bentuk
Nyinga
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan
(munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.
Bentuk
Nyeleme
Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar
(lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan
angker.
Bentuk
Raksasa Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang
umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.
Kelak, orang akan mengenangnya jauh dari kebenaran. Kelak, namanya
akan terdengar menggetarkan setiap kali disebutkan. …Rangda ing
Jirah
Jirah, nama itu mengingatkan dengan lakon pementasan Calon Arang. Kisah
tentang Sang
Rangda, janda kelahiran Jirah, tanah Kabikuan di wilayah
Medang. yang berputri Ratna Manggali. Dalam sejarahnya dikenang berasosiasi
negatif, penganut sakti ilmu hitam yang menyebar mala di Kerajaan Kadiri karena
kesumatnya. Begitu pun dengan stigma Lenda, Lendi, Wek Sirsa, Jaran Guyang,
Rarung, Gandi, Maheswadana murid utama Jirah yang memiliki pencapaian masing –
masing. Hingga Bahula putra Baradah datang ingin memperistri Ratna Manggali
sekaligus menghentikan tingkah jahat sang ibu, Rangda ing Jirah.
Dua pemuda yang hendak menyusup, dikisahkan dari dialog – dialog para
makhluk malam penghuni Setra Gandamayu. Keributan yang diciptakan para penghuni
tersebut menerakan bahwa siapakah duhai yang tengah berani melintas di Setra
Gandamayu, kuburan yang dikeramatkan itu. Menuju Kabikuan Jirah adalah tujuan dua
pemuda itu. Mereka datang atas perintah sang tuan dan sebilah keris di tangan.
Peran Jirah tentu tak akan kandas oleh adegan percobaan pembunuhan itu.
Memasuki bab kedua mulailah diceritakan kisah utamanya; Kepulangan Airlangga
ke tanah kelahiran ibunya – Gunapriyadharmapatni, di Kerajaan Medang tanah
Jawa. Melewati Segara Rupek atau yang kini dikenal Selat Bali, saat usia 16
tahun. Memenuhi pinangan pamandanya Sri Dharmmawangsa Tguh, Raja Medang
keturunan Wangsa Isana, untuk dinikahkan dengan putrinya sekaligus sepupu
Airlangga.
Airlangga berhasil menduduki istana Medang. Seketika itu kota mulai
dibersihkan. Melalui Narotama, sang pengawal yang setia dari tanah Bali, ia
memerintahkan untuk mengirim surat kepada mereka yang masih setia pada Medang.
Medang kini bernama Kediri, beribukota Daha. Surat itu dikirim lengkap dengan
bubuhan stempel
Garudamukha, lambang kerajaan Medang yang kemudian
menjadi cikal Garuda Pancasila.
Rencana dipetakan. Airlangga mulai membangun Kediri. Dusun – dusun ia
perhatikan. Inilah yang menjadi kekuatan dari novel ini, gagasan sederhanapun
tampak cemerlang dan dijabarkan detil. Semisal, prajurit dibekali keterampilan
memandai besi, sehingga ketika tidak dalam perang dan tugas jaga mereka tidak
membuat huru – hara. Rakyat dibantu prajurit membangun jembatan, dam, diajarkan
cara bertani, beternak.
Ingat – ingatlah akan sebuah prasasti yang menyebut Airlangga
sebagai titisan Dewa Wisnu ?
Lalu seberapa penting peran Jirah di sini?
Tak ada kebengisan dan perangai buruk yang dipersonakan ke dalam sosok
Jirah. Dari orang – orang yang berkelakar di pasar Daha, tak ada cacat yang
diingat dari Kabikuan Jirah. Hanya murid– murid Kabikuan Jirah yang tak bisa
dibedakan apakah lelaki ataukah perempuankah ia. Namun, setiap ibu menginginkan
anak – anaknya untuk belajar di Kabikuan Jirah. Dari hasil bumi yang dibawa
orang – orang Kabikuan Jirah, sungguh bukan kokok ayam dalam sangkar itulah
yang nyaring.
Jirah, nama itu menggetarkan Airlangga. Sang Purohito istana Kadiri, Mpu
Bharadah pun menerangkan: “Teguh dalam menjalankan ajaran Budha. Memilih setra
sebagai rumahnya, tak takut meluaskan pengetahuan. Mendidik murid – muridnya
dalam kedisiplinan dan kesetiaan yang tak tergoyahkan, menguasai tantra dan
yantra, juga tak terjangkaukan dalam pencapaian yoga”. Begitulah Jirah, sang
kerabat dari semua silsilah penguasa, dari garis ibu.
Narotama sang penasihat Airlangga, ia yang bersetia dengan kerendahan
hatinya diterima oleh Jirah. Celah itu memungkinkan peran Narotama sebagai
penasihat untuk dituturkannya suatu riwayat. Kisah – kisah tentang Dewi Kalika
dan Dewi Uma, hingga silsilah purba Wangsa Isana mengalir dari percakapan
mereka. Wangsa Isana dulunya bermukin di tengah Pulau Jawa, hingga bencana
Merapi memaksa mereka pindah ke wilayah timur. Negeri itu kemudian bernama
Mataram. Nama – nama disebutkan; Makutawangsawardhana, Dharmmawangsa Tguh,
Gunapriyadharmapatni, hingga pendiri Wangsa Isana: Mpu Sindok, Wura – Wuri,
Sriwijaya, dsb. Tak pernah tenteram Mataram didera bencana sampai perang
saudara.
Betulkah kekuasaan itu yang menggelapkan?
Airlangga adalah keturunan Wangsa Isana dari garis Ibu. Ibunya
Gunapriyadharmapatni telah dipinang oleh Raja Bali Udayana. Dalam hukum waris
Bali, si bungsulah yang harus mewarisi rumah. Sedangkan Airlangga adalah Si
Sulung. Meskipun Medang atau Mataram telah binasa, dan ia telah mendirikan
Kediri yang beribukota di Daha, tetap saja tata krama Wangsa Isana mematahkan
kehendaknya sebagai Raja di Kediri.
Intrik klasik pun terjadi dalam hubungan kekerabatan istana dengan
kekuasaan, dengan yang disebut sebagai hak. Ada masanya Kediri berjaya, para
“pemberontak” telah ditaklukan.
Apakah kemenangan itu menerangkan segalanya, melibas musuh – musuh
utama?
Di usianya yang ke 20 tahun, lalu Samarawijaya muncul. Lelaki yang dipapasi
Mpu Bharadah dalam perjalanan menuju Kabikuan Jirah, yang harus diberi
pemberkatan oleh Sung Purohito Istana, siapakah ia?
Ada masanya ketika terawang Ratna Manggali menjadi nyata: “…Orang – orang
akan lupa tentang asal muasal ajaran kita. Mereka tidak lagi menyoal siapa para
guru, siapa yang melakukan, masa depan adalah ingatan para leluhur, kalian
ingat dari sekarang, sampaikan kepada anak – anak kalian nanti, bahwa kerajaan
di bawah Airlangga akan dibagi dua, dan permintaan Airlangga ditolak oleh saudaranya
di Bali untuk menobatkan keturunannya sebagai raja di sana…”
Kutipan Manis
Siwa – Budha, itu yang didapati. Meski saya bukan orang yang paham betul
ajaran Budha, satu hal yang senantiasa menggetarkan hati dari cara bertutur
seorang Cok Sawitri dalam novel – novelnya: ajaran kerendahan hati. Entah,
itukah ajaran – ajaran Budha yang paling sederhana yang tengah diterangkannya.
Selain kode – kode istilah: Patanjali. Om Nammo Budha Ya. Raja pandita. Pejalan
Yoga. Tryaksara. Sanghyang Mantranaya. Samaya.
Meskipun berformat novel, berlebihan sepertinya, inilah sesungguhnya yang
bisa ditiru dari “kitab” bergaya paling populis yang seharusnya menjadi
referensi pelengkap para pembaca: cara penyampaian. Pelajaran etika, sejarah,
bahasa yang dikemas dengan sangat ringan dan tidak menggurui.
Dalam setiap tingkah tokohnya ada tata krama yang diselipkan. Semisal,
betapa tidak sopannya melihat perempuan berbenah, membenahi rambut di peraduan.
Tata krama tanah kebikuan. Pemungutan pajak. Dsb. Tidak hanya sekedar menjadi
tempelan, informasi itu diperkaya dengan penjelasan yang tidak menggantung.
Sehingga kadang pertanyaan kenapa, bertemu jawaban dalam novel ini.
Bicara tepi, tampaknya tak ada konklusi yang tersurat di sini. Justru nama
lain dimunculkan: Tantular dan Astapaka. Lalu teringatlah nama – nMengapa
Barong Disebut Bethara?
QUESTION:
Simbul/ perwujudan dari dewa apakah barong dan rangda yang ada di Bali dan
apakah ada dewa/ dewi yang rupanya seperti itu?
- Kenapa umat Hindu di Bali menyebut barong dan rangda itu
Bhatara?
- Anak saya yang berumur 3 tahun saya ajak nonton pertunjukan
barong dan rangda, ia bertanya: Pak, apakah itu hantu? Nah, tolong
jelaskan dari mana sejarahnya sehingga di Bali banyak yang menyungsung
barong dan rangda.
- Pantaskah kita sebut itu Tuhan?
ANSWER:
1. Barong adalah simbol daiwi sampad, dan rangda
adalah simbol asuri sampad. Keduanya merupakan rwa-bhineda yang ada di jagat
raya ini.
Umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi melalui
barong dengan maksud agar selalu diberi kekuatan untuk mewujudkan dan
memenangkan daiwi sampad, namun juga tidak lupa memohon agar terhindar dari
bahaya-bahaya asuri sampad melalui rangda sebagai sarana pemujaan.
2. Barong dan rangda disebut sebagai ‘Bhatara’
karena arti bhatara adalah: ‘yang melindungi’
3. Barong dan rangda mulai dikenalkan di Bali
sekitar abad ke-11, setelah kedatangan Mpu Kuturan. Sebagaimana diketahui
kedatangan beliau ke Bali tidak membawa istrinya yang bergelar: Rangda Nata Ing
Dirah (rangda = janda, nata = bertempat tinggal, ing = di, Dirah = nama
tempat).
Istri beliau itu berbeda paham dengan Mpu
Kuturan, di mana Rangda Nata Ing Dirah lebih cenderung ke sekte Bhairawa,
sedangkan Mpu Kuturan ke sekte Siwa-Budha. Perbedaan paham/ aliran ini kemudian
diwujudkan dalam barong dan rangda.
Pertempuran antara barong (daiwi sampad) dengan
rangda (asuri sampad) tidak pernah berakhir dan tidak pernah ada yang kalah
atau menang, karena keduanya adalah rwa-bhineda, dua tetapi satu, demikianlah
hakekat kehidupan manusia di dunia.
4. Barong dan rangda tidak disebut Tuhan/
Sanghyang Widhi, tetapi sebagai Simbol/ Niyasa seperti yang diuraikan di atas.
ama: Sutasoma dan Budhakeling…
Leak adalah seorang manusia yang
sedang mempraktekkan ilmu hitam dan memiliki perilaku kanibalisme. Dikatakan
bahwa Leak terbang sekitar mencoba mencari seorang wanita hamil untuk menghisap
darah bayi atau anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magis nya. Ada
tiga Leak legendaris, dua perempuan dan satu laki-laki. Kebocoran dengan
keterampilan sihir yang besar dapat berubah menjadi Rangda, ratu ilmu hitam.
Leak dikatakan menghantui pemakaman, memakan mayat, memiliki kekuatan untuk
mengubah diri menjadi binatang, bahkan dia berbentuk monyet dengan emas atau
gigi tikus besar, sebuah bola dari api dan bahkan raksasa gundul. Dikatakan
bahwa dia memiliki lidah yang sangat panjang dan taring besar.
Di siang hari ia muncul sebagai seorang manusia biasa, tapi pada malam hari
kepalanya dan isi perut membebaskan diri dari tubuh mereka dan terbang di
sekitar. Musuh yang kuat nya adalah Barong, karakter dalam mitologi Bali. Dia
adalah raja dari roh-roh, pemimpin tuan rumah yang baik. Barong dan Rangda ada
di urutan alam kosmos dan mewakili Baik dan Jahat. Baik Barong dan Rangda yang
disemen dalam legenda Bali.
Spoiler:
Legenda Leak di Bali mengacu pada sebuah drama mengerikan terinspirasi hitam
sihir dengan tokoh kunci dari Calon Arang. Cerita ditulis dalam naskah
menggambarkan bahwa selama pemerintahan Erlangga pada abad 11 ada janda yang
disebut Calon Arang di desa Girah memiliki seorang putri cantik. Nama Putrinya
adalah Ratna Manggali, yang telah mencapai perzinahan, tapi tidak ada satu di
antara pemuda dari desa itu dan sekitarnya memiliki keberanian untuk pendekatan
perawan. Hal ini karena ibunya diketahui memiliki pengetahuan ilmu hitam, dan
dipraktekkan itu jahat, dan dengan sikap buruk itu menyebabkan banyak orang
mati bahkan kebencian meningkat antara orang-orang, namun ini digunakan sebagai
godaan untuk kebutuhan haus sihirnya hitam.
Spoiler:
Reputasi buruk nya akhirnya mencapai istana, dan beberapa prajurit mengambil
inisiatif dan meminta izin kepada raja untuk menghukum janda. Para prajurit
menuju ke desa Girah dan menemukan tidur nya. Satu solder menyeretnya oleh
rambut, tapi sayangnya dia bangun dan sekali dia kaget dia melotot dengan 2
matanya liar memancar shooting api dan dibakar tentara, yang lain mengambil
beberapa langkah dari lari tapi sekali lagi mata blitz nya kebakaran membakar
mereka kecuali satu solder selamat dari bulu sihir hitam jahat. Tentara ini
kemudian melaporkan pengalaman mengerikan kepada raja, dan membuat raja
benar-benar kesal dan kehabisan alasan untuk mengatasi masalah tersebut. Calon
Arang tahu bahwa istana yang terlibat dalam tindakan skandal percobaan
pembunuhan, dan ia menjadi marah tak terkendali dan menyebar kekuatan gaib
jahat itu menyebabkan epidemi besar.
Quote:
Originally
Posted by balihotels
Dalam mitologi Bali, Leak adalah
penyihir jahat. Le artinya penyihir dan ak artinya jahat. Leak hanya bisa
dilihat di malam hari oleh para dukun pemburu leak. Di siang hari ia tampak
seperti manusia biasa, sedangkan pada malam hari ia berada di kuburan untuk
mencari organ-organ dalam tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat
ramuan sihir. Ramuan sihir itu dapat mengubah bentuk leak menjadi seekor
harimau, kera, babi atau menjadi seperti Rangda. Bila perlu ia juga dapat
mengambil organ dari orang hidup.
[sunting] Kepercayaan
Diceritakan juga bahwa Leak dapat berupa kepala manusia dengan organ-organ
yang masih menggantung di kepala tersebut. Leak dikatakan dapat terbang untuk
mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah bayi yang masih di
kandungan. Ada tiga leak yang terkenal. Dua di antaranya perempuan dan satu
laki-laki.
Menurut kepercayaan orang Bali, Leak adalah manusia biasa yang mempraktekkan
sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup. Dikatakan juga
bahwa Leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api, sedangkan bentuk
Leyak yang sesungguhnya memiliki lidah yang panjang dan gigi yang tajam.
Beberapa orang mengatakan bahwa sihir Leak hanya berfungsi di pulau Bali,
sehingga Leak hanya ditemukan di Bali.
Apabila seseorang menusuk leher Leak dari bawah ke arah kepala pada saat
kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka Leak tidak dapat bersatu kembali
dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu,
maka Leak akan mati.
Topeng leak dengan gigi yang tajam dan lidah yang panjang juga kadang-kadang
digunakan sebagai hiasan rumah.
|
Quote:
Originally
Posted by komunikan
Indonesia
tak hanya kental dengan budayanya saja, namun juga dengan hal-hal yang berbau
mistis. Justru kemistisan sebuah daerah biasanya terkait erat dengan budaya
serta adat istiadat daerah tersebut. Leak adalah legenda hantu yang sangat
populer dari pulau Bali. Legenda Leak di Bali ini sendiri mengacu pada sebuah
drama yang terinspirasi ilmu hitam sihir.
Konon menurut kisahnya leak adalah seorang manusia yang sedang mempraktekkan
ilmu hitam dan memiliki perilaku kanibalisme. Dikatakan bahwa Leak terbang
sekitar mencoba mencari seorang wanita hamil untuk menghisap darah bayi atau
anak yang baru lahir, untuk melengkapi kemampuan magisnya. Ada tiga Leak
legendaris, dua perempuan dan satu laki-laki.. Leak dikatakan menghantui
pemakaman, memakan mayat, memiliki kekuatan untuk mengubah diri menjadi
binatang, bahkan dia berbentuk monyet dengan emas atau gigi tikus besar,
sebuah bola dari api dan bahkan raksasa gundul. Dikatakan bahwa dia memiliki
lidah yang sangat panjang dan taring besar.
Yang satu ini walaupun diketahui oleh semua penduduk Indonesia, merupakan
memedi khas yang berasal dan mungkin hanya ada di Bali. Penyihir jahat (Le
berarti penyihir dan Ak artinya jahat) ini biasanya berkeliaran malam hari di
kuburan untuk mencari organ tubuh manusia (baik yang hidup atau mati) untuk
dijadikan ramuan yang bisa mengubahnya menjadi siluman harimau, kera, babi,
bola api atau bahkan berwujud sebagai Rangda (Ratu Leak yang memimpin pasukan
penyihir dan sering menculik dan memakan anak kecil).
Leak konon hanya bisa dilihat di malam hari oleh dukun pemburu Leak, karena
siangnya ia berwujud manusia biasa. Bentuk aslinya adalah makhluk dengan
lidah yang sangat panjang dan gigi yang tajam, ada juga kepercayaan yang
menampilkan bentuk Leak sebagai kepala manusia yang terbang dengan organ-organ
tubuh menggantung tanpa badan di bawahnya (mirip seperti legenda Kuyang di
Kalimantan dengan bentuk kepala terbang tanpa badan yang juga menyamar
sebagai manusia yang selalu mengenakan jubah di siang hari). Mangsa utama
Leak selain anak kecil adalah wanita-wanita hamil yang akan ia hisap darah
bayi yang ia kandung untuk bertahan hidup. Karena sihirnya hanya berfungsi di
Bali, Leak hanya bisa ditemukan di pulau ini.
Konon untuk bisa mengalahkan Leak, sang pemburu harus menusuk kepala Leak
dari bawah ke atas saat kepala Leak itu terbang meninggalkan tubuhnya agar
tubuh dan kepala Leak tidak bisa bersatu kembali. Jika tubuh dan kepalanya
dipisah, lama-kelamaan Leak akan mati (Proses pengusiran memedi ini sedikit
lebih sulit dari Kuyang yang cukup digebuk menggunakan sapu ijuk, panci atau
wajan).
Serem juga ya baca kisahnya tetapi sekali lagi memang ada keterkaitan erat
antara legenda mistis dengan budaya dan adat istiadat setempat. Justru
legenda ini juga memperkaya khasanah budaya Indonesia
|